Penerapan Pembelajaran Outdoor Mathematics Melalui Pendekatan Kooperatif Tipe Stad

PENERAPAN PEMBELAJARAN OUTDOOR MATHEMATICS MELALUI PENDEKATAN KOOPERATIF TIPE STAD

UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PROSES DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA DI KELAS IVB SD NEGERI  99 KOTA BENGKULU

 

SKRIPSI

 

Oleh:

YESI APRIMANITA

NIM. A1G007077

 

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS BENGKULU

2011

 

 

ABSTRAK

Aprimanita, Yesi. 2011. Penerapan Pembelajaran Outdoor Mathematics Melalui Pendektan Kooperatif Tipe STAD Pada Mata Pelajaran Matematika Untuk Meningkatkan Kualitas Proses Dan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas IVB SD Negeri 99 Kota Bengkulu. Drs. H. Ansyori Gunawan, M. Si., Drs. H. Abdul Muktadir, M. Si.

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar Matematika melalui penerapan pembelajaran Outdoor Mathematics melalui pendekatan kooperatif tipe STAD. Subyek/populasi sampel penelitian ini adalah peneliti sebagai guru kelas dan siswa kelas IVB SD Negeri 99 Kota Bengkulu. Instrumen penelitian yang digunakan lembar pengamatan dan lembar tes, lembar pengamatan yang digunakan terdiri dari lembar pengamatan aktivitas guru, lembar pengamatan aktivitas siswa, dan lembar observasi afektif dan psikomotor siswa. Teknik pengumpulan data mengunakan observasi, dokumentasi, wawancara dan tes hasil belajar, dengan teknik analisis data yang terdiri dari analisis data tes dan data observasi. Hasil yang dicapai dalam penelitian ini adalah pada siklus I persentase ketuntasan belajar siswa sebesar 56 % dengan nilai rata-rata 6,56 dan rata-rata nilai pengamatan guru 29  termasuk kategori “Baik” dengan beberapa aspek yang masih terdapat kriteria cukup, sedangkan rata-rata nilai pengamatan siswa 29,5 termasuk kategori “Baik” dengan beberapa aspek yang masih terdapat kriteria cukup, rata-rata nilai afektif siswa 6,8 dan rata-rata nilai psikomotor siswa 6,98. Pada siklus II persentase ketuntasan belajar siswa sebesar 87,5 % dengan nilai rata-rata 7,75 dan rata-rata nilai pengamatan guru 35 termasuk kategori “Baik”, sedangkan rata-rata nilai pengamatan siswa 35 juga termasuk dalam kategori “Baik”, nilai afektif siswa 7,33 dan nilai psikomotor siswa 7,7. Dari hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa penerapan pembelajaran Outdoor Mathematics melalui pendekatan kooperatif tipe STAD pada mata pelajaran Matematika siswa kelas IVB SD Negeri 99 Kota Bengkulu dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar Matematika.

Kata-kata kunci: Pembelajaran Outdoor Mathematics, Pendekatan  kooperatif tipe STAD, Kualitas proses dan hasil belajar.

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Matematika merupakan salah satu unsur dalam pendidikan yang telah diperkenalkan kepada siswa sejak tingkat dasar sampai ke jenjang yang lebih tinggi dan wajib dalam kurikulum pengajaran di SD. Menurut Prihandoko (2006:1) Matematika merupakan ilmu dasar yang sudah menjadi alat untuk mempelajari ilmu-ilmu lain, oleh karena itu penguasaan konsep-konsep Matematika harus dipahami dengan benar sejak dini, karena Matematika dapat membantu penemuan solusi dari berbagai permasalahan yang ada di sekitar kita dan bidang ilmu lain yang memerlukan konsep-konsep Matematika.

Dalam mengajarkan Matematika sangat penting menanamkan konsep-konsep yang benar dan sesuai dengan tujuan pembelajaran pelajaran Matematika. Pelajaran Matematika bertujuan agar siswa:

  1. Memahami konsep Matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah,
  2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi Matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan Matematika,
  3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model Matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh,
  4. Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah.
  5. Memiliki sikap menghargai kegunaan Matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian dan minat dalam mempelajari Matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. (Depdiknas, 2007:42)

Tujuan ini sejalan dengan nilai-nilai dalam pendidikan Matematika yaitu nilai praktis, nilai disiplin, dan nilai budaya (Prihandoko, 2006:10). Nilai praktis, memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir sendiri, sehingga siswa mampu mengembangkan ide-ide dan menyadari potensi pada dirinya. Oleh karena itu, dalam proses pengajaran selalu ada hubungan timbal balik antara guru dan siswa. Nilai disiplin berarti dengan Matematika pemikiran seseorang akan dilatih disiplin  sesuai dengan pola pelajaran Matematika yang logis. Nilai budaya maksudnya Matematika muncul sebagai hasil budaya dan berperan besar dalam mengembangkan peradaban manusia.

Proses belajar Matematika akan berlangsung secara optimal jika pembelajaran Matematika dikaitkan dengan perkembangan mental siswa yang dimulai dari konsep yang sederhana hingga ke konsep  yang rumit, dan mulai dari konsep yang nyata ke konsep yang abstrak. Maka dari itu, penting memahami tingkat perkembangan anak usia SD. Menurut Piaget (dalam Prihandoko, 2006:4) Tingkat perkembangan anak usia SD berada pada tingkat operasional konkret, yakni siswa akan mampu memahami suatu konsep jika mereka memanipulasi benda-benda konkret. Berdasarkan pendapat Piaget dapat disimpulkan pengalaman-pengalaman fisik dan memanipulasi lingkungan penting bagi tahap perkembangan anak. Guru dapat menciptakan suatu keadaan atau lingkungan belajar yang memadai agar siswa dapat menemukan pengalaman-pengalaman nyata dan terlibat langsung dengan lingkungan (Trianto, 2009:73).

Dalam paradigma baru pembelajaran di SD, agar siswa mudah memahami konsep Matematika, pelajaran Matematika harus disajikan dalam suasana yang menyenangkan sehingga siswa termotivasi untuk mempelajari Matematika. Upaya yang dapat dilakukan untuk menarik perhatian dan meningkatkan motivasi siswa dalam mempelajari Matematika antara lain dengan mengkaitkan materi dengan konsep nyata dalam lingkungan sehari-hari yang dikenal siswa atau dengan memberikan informasi tentang manfaat mempelajari materi Matematika bagi pengembangan kepribadian dan kemampuan siswa untuk menyelesaikan masalah-masalah, baik permasalahan dalam Matematika itu sendiri, permasalahan dengan mata pelajaran lain, maupun permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.

Guru merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses belajar dan perlu memahami perilaku siswa dalam belajar Matematika disamping menguasai materi yang diajarkan. Setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda-beda, sehingga guru khususnya guru Matematika, diharapkan dapat mengembangkan potensi siswa dengan menciptakan situasi belajar yang dapat mengajak siswa untuk belajar dengan baik. Menyadari tugas dan tanggung jawab dalam menciptakan situasi tersebut, maka guru perlu menerapkan suatu strategi pembelajaran yang tepat dan relevan dengan tingkat perkembangan siswa agar kendala belajar yang ditemui dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas dapat dikurangi. Dengan kata lain, guru harus mampu menciptakan suatu situasi dan kondisi belajar yang dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam kegiatan belajar.

Dalam lingkup sekolah, guru mata pelajaran Matematika seharusnya dapat mengajarkan Matematika dengan melibatkan siswa dan memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir sendiri, sehingga siswa mampu mengembangkan ide-ide dan menyadari potensi pada dirinya. Guru juga bertanggung jawab di dalam memberikan pengalaman belajar bagi anak didiknya, yang dapat membimbing mereka kearah perubahan tingkah laku sebagai wujud pencapaian tujuan pendidikan (Barlia, 2006:53). Selain itu, guru harus dapat menciptakan interaksi yang baik antara guru dan siswa, siswa dan guru, serta siswa dan siswa.

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 pada pasal 19 ayat (1) dikatakan bahwa,

”Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik”. (Visimedia, 2007:123)

 

Hal tersebut menuntut agar guru sebagai pengelola pembelajaran dapat menyediakan lingkungan kondusif untuk belajar, pendekatan pembelajaran yang sesuai dan bisa melibatkan siswa secara utuh dalam pembelajaran. Sehingga siswa tidak hanya menerima pengetahuan dari apa yang didengarnya saja, tapi dari apa yang dilakukan, dan apa yang dilihat, dan kemudian memecahkan masalah yang dihadapinya sehingga membuat siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran dan membuat keputusan sekaligus merasa senang dalam mengikuti proses pembelajaran. Dalam pembelajaran Matematika khususnya akan memberikan kesempatan bagi siswa untuk memahami konsep matematika melalui lingkungan yang ada di disekitarnya.

Namun sebuah pernyataan klasik yang sering kita dengar di tengah masyarakat adalah Matematika merupakan mata pelajaran yang sulit sehingga orang menjadi takut dan “alergi” manakala mereka mendengar Matematika (Prihandoko, 2006:9). Masalah ini juga terjadi di SD Negeri 99 Kota Bengkulu, berdasarkan diskusi dengan siswa pada saat PPL II, siswa di SD Negeri 99 Kota Bengkulu, terutama siswa di kelas IVB juga kurang meminati pelajaran Matematika, karena siswa menganggap pelajaran Matematika hanya terdiri dari hitungan yang rumit. Berdasarkan data dokumentasi juga diperoleh data nilai rata-rata ulangan bulanan untuk mata pelajaran Metematika pada bulan Desember tahun pelajaran 2010-2011 sebesar 6,33 dengan ketuntasan belajar 53,84%. Data nilai ulangan bulanan ini dapat dilihat pada lampiran 4. Nilai tersebut menunjukkan prestasi belajar siswa rendah, berdasarkan ketentuan Depdiknas (2007:62) indikator tercapainya tujuan pembelajaran secara klasikal di kelas yaitu jika rata-rata siswa di kelas dalam pelajaran Matematika memperoleh nilai  ≥ 7,0 sebanyak 75%. Rendahnya nilai rata-rata kelas tersebut disebabkan karena siswa kurang memahami konsep Matematika yang diajarkan oleh guru, karena guru lebih banyak membelajarkan Matematika dengan hafalan.

Selain itu, permasalahan dalam pembelajaran yang terjadi di kelas IVB SD Negeri 99 Kota Bengkulu, berdasarkan refleksi guru kelas terhadap pembelajaran yang dilakukan peneliti saat melakukan PPL II di kelas IVB SD Negeri 99 Kota Bengkulu antara lain: 1) peneliti cenderung mendominasi pembelajaran untuk menjelaskan atau memberitahukan materi kepada siswa tentang konsep yang diajarkan, 2) peneliti kurang memberi tugas yang bersifat pemecahan masalah baik secara individu maupun kelompok, 3) pembelajaran hanya bersifat mengajak anak menghafalkan fakta, rumus, atau aturan, 4) siswa tidak tahan lama dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas dan sulit berkonsentrasi untuk mendengarkan pemberian materi pelajaran dari guru, karena guru tidak kreatif dalam menerapkan pendekatan yang sesuai dengan pembelajaran, serta suhu udara di dalam kelas yang terasa panas karena siswa kelas IVB masuk pada pukul 10.00 WIB, 5) penerapan pembelajaran kelompok belum optimal, karena kelompok yang dibentuk berdasarkan nomor absen siswa, 6) penghargaan terhadap siswa hanya sebatas penghargaan individu, 7) peneliti hanya menggunakan media gambar dan kata-kata yang dituliskan di karton dalam pembelajaran, 8) peneliti belum memanfaatkan lingkungan sekitar kelas sebagai sumber belajar.

Oleh karena itu, setelah peneliti dan guru kelas IVB SD Negeri 99 Kota Bengkulu  berdiskusi, ada tiga permasalahan yang akan peneliti fokuskan untuk mencari solusinya yaitu belum adanya penghargaan kelompok, suhu udara yang panas, dan belum dimanfaatkannya lingkungan luar kelas sebagai sumber belajar. Untuk mencari solusi terhadap pembelajaran di atas, maka peneliti dan guru kelas menyepakati untuk meningkatkan kualitas proses serta hasil belajar siswa, khususnya dalam mata pelajaran Matematika adalah dengan menerapkan pembelajaran Outdoor Mathematics dan pendekatan kooperatif tipe STAD. Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan oleh Rusdi dan Susanta yang juga menerapkan pembelajaran Outdoor Mathematics serta kooperatif tipe STAD, peneliti yakin permasalahan dalam mata pelajaran Matematika di kelas IVB SD Negeri 99 Kota Bengkulu akan dapat di atasi.

Karjawati (dalam Widayanti, 2010:1) menyatakan bahwa metode Outdoor Study adalah metode dimana guru mengajak siswa belajar di luar kelas untuk melihat peristiwa langsung di lapangan dengan tujuan untuk mengakrabkan siswa dengan lingkungannya. Menurut Meier Pelajaran matematika akan sangat bermakna, jika siswa dibawa ke luar ruangan dan memulai untuk menggunakan matematika sebagai alat untuk belajar (dalam Rusdi dan Susanta, 2007:4). Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan lingkungan di sekitar siswa dapat digunakan sebagai sumber belajar.

Menurut Krismanto (2003:9) kegiatan pembelajaran Matematika luar kelas ini sebaiknya dilakukan dalam kelompok. Menurut Lie (2007:12) sistem pembelajaran berkelompok ini memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam  tugas-tugas yang terstruktur, selain itu dengan bekerja dalam kelompok (Cooperative) siswa dapat saling mengajar dengan siswa lainnya (Peer Teaching).

Pembelajaran berkelompok atau kooperatif  menekankan kerja sama antara siswa dalam kelompok. Hal ini dilandasi oleh pemikiran bahwa siswa  lebih mudah menemukan dan memahami suatu konsep jika mereka saling mendiskusikan masalah tersebut dengan temannya (Asma, 2006:12). Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan pembelajaran berkelompok sesuai untuk mendampingi pembelajaran Matematika luar kelas karena dapat mengatasi masalah pembelajaran yang peneliti hadapi selama PPL II. Salah satu pembelajaran berkelompok yang diakhir pembelajaran memberikan penghargaan adalah pendekatan kooperatif tipe STAD.

Pendekatan kooperatif tipe STAD merupakan salah satu tipe dari pembelajaran kooperatif dengan jumlah anggota tiap kelompok 4-5 orang siswa secara heterogen (Trianto, 2009:68). Perbedaan pendekatan kooperatif tipe STAD dengan pendekatan kooperatif lain terletak pada penghargaan kelompok di akhir pembelajaran.

Berdasarkan permasalahan dalam proses pembelajaran yang peneliti alami selama peneliti PPL II, maka diadakan penelitian dalam bentuk penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilakukan di SD Negeri 99 Kota Bengkulu karena permasalahan yang ada dalam penelitian ini adalah permasalahan selama peneliti praktik mengajar di SD Negeri 99 Kota Bengkulu.

Peneliti juga memilih siswa kelas IVB sebagai subjek penelitian, karena selain hasil belajar siswa di kelas IVB rendah, siswa yang duduk di kelas empat masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki cara dan hasil belajarnya karena masih memiliki waktu untuk mengikuti proses pembelajaran di sekolah dasar.

Berdasarkan uraian di atas maka judul dalam penelitian ini adalah “Penerapan Pembelajaran Outdoor Mathematics Melalui Pendekatan Kooperatif Tipe STAD Untuk Meningkatkan Kualitas Proses dan Hasil Belajar Matematika Siswa di Kelas IVB SD Negeri 99 Kota Bengkulu”.

 

2 .  Rumusan Masalah

Berdasarkan masalah yang dikemukakan pada latar belakang, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

  1. Apakah penerapan pembelajaran Outdoor Mathematics melalui pendekatan kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran untuk mata pelajaran Metematika di kelas IVB SD Negeri 99 Kota Bengkulu?
  2. Apakah penerapan pembelajaran Outdoor Mathematics melalui pendekatan kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa untuk mata pelajaran Metematika di kelas IVB SD Negeri 99 Kota Bengkulu?

3 . Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah diajukan, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu:

  1. Untuk  meningkatkan kualitas proses pembelajaran pada mata pelajaran Metematika di kelas IVB SD Negeri 99 Kota Bengkulu dengan menerapkan pembelajaran Outdoor Mathematics melalui pendekatan kooperatif tipe STAD.
  2. Untuk meningkatkan hasil belajar Metematika siswa di kelas IVB SD Negeri 99 Kota Bengkulu dengan menerapkan pembelajaran Outdoor Mathematics melalui pendekatan kooperatif  tipe STAD.

 

4 .  Manfaat Penelitian

Adapun  manfaat yang dapat diberikan melalui penelitian ini, yaitu:

  1. Bagi Kepala Sekolah dan Pengawas, hasil penelitian dapat membantu meningkatkan pembinaan profesional dan supervisi kepada para guru secara lebih efektif dan efisien dengan menerapkan pembelajaran Outdoor Mathematics melalui pendekatan kooperatif  tipe STAD.
  2. Bagi para guru, hasil penelitian dapat menjadi tolok ukur dan bahan pertimbangan guna melakukan pembenahan serta koreksi diri bagi pengembangan profesionalisme dalam pelaksanaan tugas profesinya dengan menerapkan pembelajaran Outdoor Mathematics melalui pendekatan kooperatif  Tipe STAD.
  3. Bagi siswa, dapat meningkatkan  aktivitas siswa pada mata pelajaran Metematika di kelas IVB SD Negeri 99 Kota Bengkulu dan menciptakan interaktif antar siswa sehingga menyenangkan bagi siswa serta meningkatkan hasil belajar siswa di kelas dengan menerapkan pembelajaran Outdoor Mathematics melalui pendekatan kooperatif  tipe STAD.
  4. Bagi peneliti dapat memberikan pengalaman dalam merencanakan pembelajaran Outdoor Mathematics melalui pendekatan kooperatif tipe STAD dan melaksanakannya serta dapat meningkatkan inovasi Pembelajaran sehingga menumbuhkan sikap profesionalisme bagi calon guru SD.

 

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

One Response to Penerapan Pembelajaran Outdoor Mathematics Melalui Pendekatan Kooperatif Tipe Stad

  1. gufron mengatakan:

    sharing outdoor dong

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: